June 7th, 2009 by laluabdulfatah
aku mengajaknya kolaborasi. kolaborasi membunuh setan. sebab, setan begitu menyakitkan. membawa petaka saja kerjaannya. menyeret ke surga.
dia mengangguk setuju. senyumannya juga pertanda iya. pake apa, tanyanya?
sapu lidi saja, jawabku. sapu lidinya kita doakan. biar seperti harry potter. kita mintakan agar bertuah, pada Tuhan tentunya.
baik. di mana?
kuburan.
pergilah kami ke sana. membawa sapu lidi. tak lupa seceret air. untuk memandikan si sapu agar berkah.
kami pun duduk bersila. menunggu desau angin berhenti. bersedekap. lalu, panjatan doa mulai mengalun dari bibir kami berdua.
langit membahanakan suara. kami makin konsentrasi.
bahkan, kami tidak paham ketika kolaborasi kami pun didukung oleh setan.
Posted in Tak Berkategori | 1 Comment »
June 7th, 2009 by laluabdulfatah
perdengarkan aku suara musik, pintanya.
musik jenis apa maumu?
apa saja. asal enak di telingaku.
bagaimana aku tahu, enak tidaknya?
putar saja. nanti kalau aku tidak suka, kan tinggal bilang.
oke.
musik pun mengalun. lembut. lembut. lalu, menanjak naik. makin garang. makin sangar. makin mencekam. menakutkan.
matikan!!!
aku tidak bisa menghentikannya. aku sendiri hanyut dalam genangan musik yang makin meluber. aku terperangkap suara musik. terperosok begitu dalam.
hentikan!!!
aku telah jadi musik itu sendiri…
Posted in Tak Berkategori | No Comments »
June 7th, 2009 by laluabdulfatah
daniel bersembunyi di balik reruntuhan. matanya awas menatap sekeliling. napasnya memburu. langit seperti menangkup cahaya, mengurungnya di luar sana.
pelan-pelan dia berdiri. membersihkan debu yang menempel nakal di baju dan celananya. namun, inderanya ia pasang. waspada tingkat tinggi. sungguh, satu bunyi krik bisa mencopot jantungnya.
belum selesai ia sepenuhnya menarik napas, reruntuhan itu benar-benar meruntuhinya…
napasnya pun telah lengkap. malaikat di kejauhan berkerlip manja.
Posted in Tak Berkategori | 3 Comments »
February 9th, 2009 by laluabdulfatah
tiap malam, dia berbaring di jalan raya. akan bangun begitu ada truk atau mobil yang lewat. dia sedang menanti seseorang. masih belum jelas bagiku, itu siapa. yang pasti, jika dia melintas tepat di atasnya, maka tabiat beringasnya akan keluar.
aku perhatikan dia dari jauh. dari atas sebuah bangunan tua yang tak dilanjutkan pembangunannya. aku telah menunggu sejak dua jam yang lalu.
masih gepeng tubuhnya. tak ada tanda-tanda akan terjadi teriakan atau histeria yang memekakkan. jalanan sepi. hanya beberapa kendaraan yang lewat. yang pasti, bukan truk atau mobil. hanya lalu lalang sepeda motor.
bosan. aku pun turun dari bangunan itu. sepi menggila. dingin menghambur.
kustarter mobil. jalan. pas di atasnya.
dia beringas.
Posted in Tak Berkategori | 1 Comment »
January 10th, 2009 by laluabdulfatah
dia orang biasa. tak ada yang istimewa. tak ada mata yang perlu dipicingkan untuknya.
dia berjalan seperti orang biasa. dia makan seperti orang biasa. dia melihat seperti orang biasa. dia berbicara seperti orang biasa. dia mandi seperti orang biasa. dia biasa.
benar-benar biasa.
lalu, dia pun meninggal seperti orang biasa.
namun, namanya tercatat di sana: orang biasa.
Posted in Tak Berkategori | 1 Comment »
January 9th, 2009 by laluabdulfatah
warga di kampungku sedang tergila-gila pada walet. sarangnya
benar-benar jadi rebutan. mereka mencari hingga ke gua-gua sempit,
terjal, dan berbahaya di tepi pantai.
mereka menggila. hingga tersebar kabar, “walet akan punah kalau
sarangnya terus-menerus kita buru.”
namun, siapa peduli. warga telah dibutakan. duit berjuta-juta lebih
garang lagi menari di kepala mereka.
suatu pagi yang sembab oleh kabut. rumah-rumah warga tertutup oleh
jutaan burung walet. kecuali, rumahku tentu saja. hingga aku bisa
menceritakan ini padamu.
–
Allah always with us!!!
Posted in Tak Berkategori | 1 Comment »
January 9th, 2009 by laluabdulfatah
tanpa pedulikan orang-orang di sekitarnya, Imad segera memakai
sepatunya. zuhur baru saja telah ia kelarkan. riuh-rendah percakapan
di sekelilingnya, tak urung membuatnya sekadar menyimak saja.
ikatan terakhir tali sepatunya, Imad langsung berdiri. baru melangkah
sekali saja, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang aneh di telapak
kakinya. ia menatap ke bawah.
“haaah, sepatuku? sepatuku kok jadi daun?”
Imad berseru. satu dua mulut mulai berkomentar. Imad langsung
gemetaran. keringat dingin serta-merta meluncur deras dari pori-pori
kulitnya.
Imad kembali ingat pada riwayat sepatunya tersebut.
–
Allah always with us!!!
Posted in Tak Berkategori | No Comments »
October 23rd, 2008 by laluabdulfatah
dia menghampiriku. ramai-ramai. membawa cahaya warna hitam.
‘betulkah kamu yang kami cari?’
‘maksud kalian?’
‘kamu adalah manusia yang tepat!’ sahut yang lain.
‘kamu beruntung! jangan takut dengan kami. kami teman kamu.’
‘berpesta, yuk, kawan-kawan! kita dapat prajurit baru!’ tawa membahana.
‘aku tidak mengerti!!!’
‘nikmati saja! duduk bersama kami. nikmati. kita akan berpesta pora malam ini.’
‘tidaaaaakkkkk…’
di depanku sudah berdiri ribuan laskar berwarna hitam. entah siapa. sepertinya…setan!
Posted in Tak Berkategori | 1 Comment »
October 13th, 2008 by laluabdulfatah
pedih. senyumnya putih. memandang ribuan kupu-kupu hitam yang memenuhi rongga antara dirinya dan dia.
tak lama kemudian, senyumnya jadi hitam. ribuan kupu-kupu itu jadi putih. seperti
selimut salju yang turun saat musim dingin.
ia mengenakan mantel hangatnya. menghalau kupu-kupu itu menjauh. lalu, ke dapur. menyeduh secangkir teh mint.
di bawah bias pelangi sore, dia duduk sambil memandangi permukaan air teh. tak ia temukan bayangannya di situ. yang muncul adalah bayangan ibunya.
setelah heran bercampur takjub, ia mengangkat kepalanya. memandang ke depan. dia menghilang. kupu-kupu yang tadi hitam menjadi putih, kini telah buyar. hanya ada dia dan secangkir tehnya.
setetes bening mengalir dari bilik matanya.
Posted in Tak Berkategori | 1 Comment »
October 13th, 2008 by laluabdulfatah
kiri, kanan, depan, belakang. yang ada hanyalah hujan mengungkung. sore yang berlinang.
aku melihatmu menggigil. sendirian. orang tuamu di mana? inginku bertanya. mengapa kau di sini? tidak di rumah saja menghangatkan badan di depan perapian?
‘awas!’
aku berteriak. tapi, kau pasti tak dengar. sebuah kendaraan besar melintas indah. bumi menjelma gelap. aura pengap segera meruap.
jalanan sepi. orang-orang ke mana? kenapa kau sendirian saja berselimut hujan?
aku ingin membantu. tapi, dayaku apa? aku hanyalah pohon di pinggir jalan. sekadar menaungi dirimu saja, tak mungkin. bumi membebat kakiku.
pada siapa hendak kuberitahukan berita ini?
Posted in Tak Berkategori | No Comments »